Ziarah Pintu Suci, Pintu Menuju Keselamatan dan Menerima Rahmat Allah

May 10, 2025
Ziarah Pintu Suci, Pintu Menuju Keselamatan dan Menerima Rahmat Allah

Seusai mengikuti Ziarah Porta Sancta di Katedral Santa Maria Palembang, umat Lingkungan Santo Stefanus (Wilayah 7) Paroki Santo Yoseph Palembang mengikuti Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh RD. Yohanes Agung Apriyanto, Sabtu 10 Mei 2025 pukul 10.30 Wib.

Dalam homilinya Romo Agung mengatakan pada hari ini kita telah melakukan sebuah peziarahan luar biasa yang dirasakan dalam tahun Jubelium. Tahun suci dimana kita memasuki salah satu Pintu Suci yang ada di Keuskupan Agung Palembang yakni di Katedral Santa Maria ini.  Kalau berbicara tentang tradisi-tradisi yang ada dalam Gereja Katolik,  tentu menjadi sebuah kekayaan yang tak terhingga yang kita miliki dan juga kekhasan yang kita miliki sebagai orang Katolik,  bahkan juga liturgi-liturgi Gereja yang begitu indah dan semarak yang luar biasa dalam perayaan-perayaan liturgi maupun juga iman yang sungguh-sungguh benar,  yang kita rasakan dalam agama Katolik. Dalam iman kita sebagai orang Katolik,  seharusnya membawa kebanggaan dalam diri kita namun seringkali terjadi ialah kita menyaksikan banyak orang yang keluar dari iman Katolik.

Maka ketika ada orang-orang yang keluar dari Gereja Katolik, kalau ditanya tentang iman Katolik, tidak tahu apa-apa dan mengatakan hanya percaya kepada omongan orang, lalu keluar, dan lain sebagainya. Itu seringkali terjadi dalam iman Katolik, dalam gereja Katolik,  orang-orang Katolik.  Inilah yang juga dialami oleh para murid Yesus pada saat itu.  Mereka tidak paham tentang roti hidup yang diajarkan oleh Yesus dan bersunggut-sunggut tentang ajaran Yesus tentang roti hidup itu. Mereka  tidak mampu menyerap,  memahami ajaran Yesus itu, sehingga mereka pergi meninggalkan Yesus. Tetapi yang menarik adalah Tuhan Yesus tidak mengubah ajarannya, tetap mengajarkan kepada murid-muridnya tentang makna dari roti hidup itu,  juga makan tubuh dan minum darahnya.  Maka Ia bertanya kepada para rasul, apakah engkau tidak mau pergi juga?  Petrus menjawab dengan sangat tegas Tuhan, kepada siapakah aku akan pergi? Perkataanmu adalah perkataan hidup yang kekal.  Kami telah percaya dan tahu, mereka paham bahwa engkau adalah yang kudus dari Allah. 

Jawaban Petrus ini menjadi jawaban kita juga sebagai orang Katolik yang sejati.  Dimana Kristus yang kita imani adalah sumber kehidupan, santapan jiwa dan santapan hidup kita yang menguatkan dalam hidup sehingga kita boleh mengalami keselamatan. Dialah menjadi kekuatan dalam hidup kita, tubuh dan darahNya yang kita terima menjadi santapan rohani  yang sungguh-sungguh meneguhkan dalam hidup  dan menjadi jaminan akan keselamatan. Tubuh dan darahNya setiap saat kita terima, kita makan melalui Ekaristi Kudus, melalui Ekaristi Suci. Kita merayakan Ekaristi, menyambut tubuh dan darah Kristus  untuk bersatu denganNya. Terkadang orang juga merasa sulit  untuk menerima ajaran-ajaran Yesus, seperti dalam kehidupan kita sehari-hari,  Yesus mengajarkan bagaimana kita hidup di dalam kasih, hidup dalam perdamaian,  hidup saling menghormati satu dengan yang lain dan lain sebagainya.  

Ajaran-ajaran Yesus tentang kebersamaan kita dengan orang lain dan itu terasa sulit untuk kita lakukan,  seringkali ini juga menjadi dilema dalam hidup kita  sebagai murid-murid Kristus. Mungkin kita menyatakan ya untuk beriman kepada Yesus tetapi cara hidup kita seringkali jauh dari cara beriman yang baik, yang juga sulit melakukan ajaran-ajaran, perintah-perintah Yesus  untuk hidup dalam semangat kasih  dan persaudaraan satu dengan yang lain. Kiranya Tuhan Yesus juga menantang kita semua apakah kamu juga tidak mau pergi juga?  Semoga melalui jawaban Petrus,  kita semua juga semakin diteguhkan dalam hidup iman kita,  akan Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan keselamatan dan sumber kehidupan yang kekal mengantar kita kepada kehidupan dan kebahagiaan yang abadi nantinya. 

Semoga peristiwa yang kita rayakan hari ini juga membawa kita kepada semangat iman  yang lebih mendalam kepada Yesus sendiri. Kiranya pengalaman yang kita rasakan hari ini,  perjalanan-perjalanan peziarahan rohani kita  dalam tahun Jubelium ini,  dalam semangat Jubelium dan salah satunya memasuki pintu suci ini, sungguh-sungguh membawa semangat pembaharuan rohani dalam hidup kita,  membawa pembaharuan spiritualitas iman kita dan semakin membuat kita hidup di dalam pertobatan. Melalui peristiwa ini,  kita sungguh-sungguh mengalami rahmat Allah yang lebih mendalam,  merasakan kasih Allah yang luar biasa,  dimana Allah selalu mengundang kita untuk bertobat  dan mengalami kehidupan yang baru bersamanya.  Juga membawa kita semakin dekat dengan Yesus,  sang satu-satunya pintu yang membawa kita kepada keselamatan itu sendiri dan juga kita semakin menjalin relasi yang akrab dengan Yesus dalam kehidupan kita sehari-hari.

Kita juga diperbaharui dalam menjalani iman kita, dalam hidup kita, yakni dengan semakin mengasihi sesama kita untuk juga saling peduli, satu dengan yang lain,  dalam arti bahwa kita hidup dalam semangat persaudaraan,  untuk tidak saling bermusuhan,  untuk saling menghargai satu dengan yang lain,  untuk tidak mudah menyimpan dendam dan juga kebencian kepada orang lain,  tetapi kita semua sadar bahwa kita adalah orang-orang yang telah dipanggil oleh Allah untuk beriman kepadanya. Kita terhimpun dalam satu kawanan domba-domba Allah yang hendaknya saling mendukung satu dengan yang lain,  saling menghargai satu dengan yang lain, saling mengasihi satu dengan yang lain dan itulah yang juga diajarkan oleh Yesus sendiri dalam kehidupan kita.  Semoga melalui peristiwa-peristiwa yang kita rayakan hari ini,  sungguh mendatangkan buah-buah rahmat dalam kehidupan kita sehari-hari  dan semakin memperteguh iman kita dan juga berkat Tuhan selalu menyertai kita semua. 

Seusai Perayaan Ekaristi, Athanasius Eko Pranoto, Wakil Ketua Lingkungan Santo Stefanus  mengucapkan syukur kepada  Bapak, Ibu Lingkungan Stefanus yang  bisa ikut dan  baru pertama kali  masuk pintu suci. Mudah-mudahan nanti kita lebih guyup lagi dalam acara yang diselenggarakan Keuskupan Agung Palembang, kita semua bisa ikut serta.

Sementara itu dalam sambutannya Vikjen Keuskupan Agung Palembang, RD. Yohanes Kristianto mengatakan pasti kesempatan yang sangat luar biasa pada hari ini Bapak, Ibu warga Lingkungan Santo Stefanus beramai-ramai untuk mengikuti seruan Bapa Paus Fransiskus di tahun Yubilium untuk mengunjungi dan memasuki Porta Sancta.  Jadi memasuki Porta Sancta itu bukan sekedar masuk pintu,  tapi ada suasana rohani yang ingin dihayati dan dirasakan bahwa Allah sendiri yang mengundang kita untuk menikmati kemurahan dan belas kasih Allah.

Lingkungan Santo Stefanus tidak asing pasti bagi saya, karena saya 9 tahun dulu di Santo Yoseph, ada tokoh-tokohnya di situ, dulu ada Pak Agus Wira, Pak Yokabus Salim, Pak Yohanes Suprio, jadi ada banyak sekali yang masih saya kenal. Sekarang jumlah KK Lingkungan Santo Stefanus sebanyak 56, kita sedang bicara tentang komunitas basis yang jumlahnya 7 sampai 10 KK. Paling tidak kita ingin semakin mendalami sejarah hidup Gereja Perdana, para rasul setelah peristiwa kebangkitan Yesus mulai berhimpun, mereka membangun kekuatan rohani, kekuatan spirit, tapi juga saling meneguhkan satu sama lain karena tantangannya banyak.

Mudah-mudahan Paus yang baru sungguh menjadi pemimpin yang  ada bagian-bagian untuk melanjutkan karya dari Paus yang lama, Paus Fransiskus. Ada begitu banyak langkah yang sangat diharapkan terutama menciptakan damai di dunia ini. Kalau Paus Leo XIV ini,  bagian yang saya ingat adalah akan membangun jembatan penghubung antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain,  agama yang satu dengan agama yang lain.  Saya kira tujuannya adalah supaya tercipta perdamaian, karena itu kita juga ingin seiring sejalan dengan paus kita ini. Profisiat dan selamat untuk Anda sekalian dari Lingkungan Santo Stefanus, semoga spirit Santo Stefanus juga boleh diikuti, dihayati,  menjadi inspirasi bagi gerak kita sebagai umat Lingkungan Santo Stefanus.

Leave a Reply


4 + 8 =