Palembang – “ Dalam keadaan apapun, terutama dalam keadaan yang sulit, juga dalam keadaan yang biasa, dalam keadaan yang menyenangkan, kita tetap diajak untuk bersandar penuh pada Tuhan dan kita percaya itulah yang dikendaki Tuhan dan Tuhan akan memberikan pertolongan, “ demikian yang dikatakan RD. Dionisius Anton Liberto dalam homilinya pada Perayaan Ekaristi, Kamis 5 Februari 2026 pukul 09.50 Wib di Lapas Narkotika Banyuasin. Kegiatan ini diikuti oleh tujuh warga binaan yang beragama Katolik dan Kristen bersama sembilan anggota Komunitas Persaudaraan Keuskupan Agung Palembang.
Selain itu Romo Liberto juga mengajak Warga Binaan Lapas Narkotika Banyuasin untuk merenungkan bahwa kita sebagai utusan Tuhan, tidak diutus untuk pamer perlengkapan, tetapi kita diutus untuk mewartakan iman, mewartakan kasih dan kebaikan Tuhan. Dalam keadaan apapun kita diminta untuk mengandalkan Tuhan, kita barangkali pasti punya kekuatan kelebihan atau sesuatu yang dapat dibanggakan, tetapi sebenarnya itu bukanlah apa-apa dihadapan Tuhan.
Dalam keadaan apapun, terutama dalam keadaan yang sulit, juga dalam keadaan yang biasa, dalam keadaan yang menyenangkan, kita tetap diajak untuk bersandar penuh pada Tuhan dan kita percaya itulah yang dikendaki Tuhan dan Tuhan akan memberikan pertolongan, memberikan kekuatan kepada yang diutusnya, kepada kita semua Kesetiaan kecil akan membawa berkat, tadi pesan Daud jelas, taatlah pada Tuhan, maka hidupmu itu diberkati, taat pada Tuhan hidupmu itu diberkati. Kesetiaan pada hal kecil, berdoa lalu berbuat kebaikan yang kecil, menjadi bekal perjalanan iman kita, membawa keselamatan kepada kita, maka kesetiaan kecil itu akan mendatangkan berkat.
Kalau kita ingin berubah, tentu kita tidak akan langsung, kalau bisa ya syukur, langsung berubah besar, tetapi kita mulai dengan perubahan-perubahan kecil tetap akan mendatangkan berkat. Perubahan-perubahan sederhana, perubahan-perubahan kecil menjadi lebih baik, akan tetap mendatangkan berkat. Semoga kita dimampukan untuk senantiasa bersandar, mengandalkan Tuhan, tetapi kita juga membaharui hidup dengan kesetiaan kecil, melakukan perubahan-perubahan kecil, taat pada Tuhan, sehingga mendatangkan berkat bagi kita semua.
Seusai mengikuti Perayaan Ekaristi warga binaan Lapas Narkotika Banyuasin diajak ramah tamah dan menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh Komunitas Persaudaraan.
Sekilas Komunitas Persaudaraan
Komunitas Persaudaraan Keuskupan Agung Palembang didirikan oleh Romo Purwanto, SCJ yang mendapat tugas khusus untuk menangani buruh migran dan mereka yang ada di lembaga pemasyarakatan. Bersama Suster Hati Kudus, Suster Santo Fransiskus Charitas serta Komunitas Kerawam yang awalnya berjumlah duabelas orang mengadakan kunjungan ke Lapas Pakjo, Lapas Wanita Merdeka, Lapas Narkoba di Podomoro dan Lapas Merah Mata. Selain kunjungan juga diadakan Perayaan Ekaristi untuk memberikan siraman rohani bagi umat Katolik dan Kristen yang ada di lembaga pemasyarakatan.
Walaupun sudah satu tahun di tinggal Romo Purwanto, SCJ yang pindah tugas ke Papua, Komunitas Persauadaraan ini tetap berjalan dan mengajak para Romo Dekanat 1 untuk memberikan pelayanan. Sekarang Komunitas Persaudaraan ada di bawah Komisi Keadilan dan Perdamaian (KKP) Keuskupan Agung Palembang dengan Ketuanya RD. Dionisius Anton Liberto. Saat ini anggota tetap Komunitas Persaudaraan kurang lebih 30 orang dan yang aktif sebanyak 25 orang dengan Komunitas Kerawam yang bergabung dari Legio Maria dan Kerahiman Illahi. Mereka yang ikut bergabung dari lintas Paroki dan terpanggil untuk melayani serta mandiri.
Para Suster yang bergabung dalam Komunitas Persaudaraan, yaitu : Sr. Sri HK, Sr. Anna Maris, HK, Sr. Francis, HK, Sr. Louisa. HK, Sr. Susana, HK (sekarang), Sr. Christin, CB (sekarang), Sr. Marina, CB, Sr. Issabella, FCh, Sr Chlodia, FCh, Sr. Neonora, FCh, Sr. Olivia, FCh, Sr. Magdalena, FCh dan Sr. Fransita, FCh.
Dwi Hartono, Koordinator Komunitas Persaudaraan menjelaskan tujuan Komunitas Persaudaraan adalah memperhatikan mereka yang sangat membutuhkan pendamping rohani khususnya yang sedang mendapat musibah. Program yang dimiliki, yaitu : Kunjungan ke Lapas setiap Minggu dan mengadakan Perayaan Ekaristi di Lapas Merdeka setiap hari Jumat dan Lapas Pakjo setiap hari Selasa, sementara untuk Lapas Narkoba sebulan sekali setiap Minggu ke 2, rekoleksi bersama serta mempersiapkan perayaan hari besar seperti : Paskah dan Natal serta melayani untuk pengakuan dosa.
Ketika ditanya kesannya di Komunitas Persaudaraan Dwi Hartono yang sudah bergabung kurang lebih sepuluh tahun, merasa senang bisa berbagi kasih dalam spiritual dan rejeki, bersatu bersama walaupun masakan rumahan tapi dengan hati masaknya sehingga menjadi senang.






