Pembekalan Pendamping Keluarga Paroki Santo Yoseph Palembang

June 4, 2026
Pembekalan Pendamping Keluarga Paroki Santo Yoseph Palembang

Palembang – Untuk membantu mengatasi berbagai masalah dalam keluarga di Paroki Santo Yoseph Palembang, Seksi Kerasulan Keluarga, Bidang Persekutuan membentuk Tim Pendampingan Keluarga dan mengadakan Pembekalan Pendamping Keluarga Tahap pertama, Senin 1 Juni 2026 pukul 10.00-14.30 Wib di Aula Pastoran yang diikuti 29 peserta terdiri dari 12 pasangan dan 5 perorangan. Acara ini menghadirkan narasumber : Sr. M. Fransita, FCh (materi : Konseling Consultation) dan Romo Albertus Bayu Christanto, SCJ (materi : Perkawinan Katolik, Menyelami Hukum Kanonik dan Nota Pastoral Keluarga Kuskupan Agung Palembang) dan kegiatan dibuka secara resmi oleh Billy Jaya selaku Ketua DPP Santo Yoseph Palembang.

Dalam sambutannya Billy Jaya mengucapkan, terima kasih untuk narasumber yang mendampingi kami dalam rangka persiapan calon konsuler, semoga yang hadir di sini nanti berkenan ikut terlibat aktif  untuk pelayanan keluarga di Paroki Santo Yoseph. Kita pasti sudah sama-sama tahu  perlu data cukup untuk mengetahui berbagai problem keluarga yang ada khususnya di Paroki Santo Yoseph Palembang tentu problem keluarga tidak hanya menyangkut suami istri, anak-anak dan OMK.

Tim ini sangat dibutuhkan sebetulnya cita-citanya sudah lama, dulu sudah ada terbentuk  tapi tidak tahu bagaimana mekanisme kerjanya. Kita tidak perlu menyerah akan terus mendorong agar betul-betul tim ini bisa jadi solid nantinya. Tentu ini tidak hanya sekedar pelatihan buat tim dan  kita perlu manajemen tim,  maka sangat diharapkan keterlibatan kita yang pada akhirnya memang  tim ini bisa bermanfaat betul untuk Paroki ini.  Tapi yang jelas, kita tidak hanya mengurus pasangan suami istri saja, tapi lebih penting bagaimana dalam keluarga pelaksanaanya tapi itulah tantangannya.

Kegiatan ini  tidak cukup hanya satu kali pertemuan tentu akan terus menerus  dan bila perlu memang tim ini bukan sekedar pekerja sosial tapi sebuah komunitas yang memang menjadi perhatian  untuk keluarga di Paroki Santo Yoseph Palembang.  Kalau ini sebuah komunitas yang saling menguatkan  dan saling bekerja untuk pelayanan, demikian harapan dari  Dewan Pastoral Paroki  untuk tim ini, semoga apa yang kita lakukan berkenan di hadapan Allah dan kita bisa digerakkan untuk ini bisa lebih baik.

Sementara itu Ketua Seksi Kerasulan Keluarga, Fransiskus Harlim menjelaskan, kegiatan ini merupakan program kerja Bidang Persekutuan, Seksi Kerasulan Keluarga tahun 2026, karena permasalahan dalam keluarga, tidak ada tempat konsultasi selain Pastor Paroki. Harapannya dengan terbentuknya Tim Pendampingan Keluarga bisa membantu, sebagai tempat sharing dan solusi masalah keluarga di Paroki Santo Yoseph Palembang.

Sr. M Fransita, FCh narasumber tentang Konseling Consultation menyampaikan apresiasi kepada Seksi Kerasulan Keluarga dan DPP Santo Yoseph Palembang ini pertama kalinya Paroki yang  ada di Dekanat Palembang, memulai  kursus persiapan untuk para pendamping konseling keluarga. Pembentukan Tim seperti ini sangat dibutuhkan yang sudah dimulai oleh Paroki Santo Yoseph Palembang sebagai benih, bibit unggul. Sangat dibutuhkan karena banyak kasus-kasus yang  memerlukan saudara-saudari di tempat ini untuk sama-sama mendampingi, tapi kita harus menjadi satu tim.

Bapak, Ibu dan Suster yang hadir,  satu jam sebelumnya sudah datang, ini menandakan dalam diri yang hadir di sini ada hati, anda memiliki hati, kedisiplinan, respect terhadap yang lain, jadi menghargai waktu dan menghargai yang lain. Nah ini adalah bibit-bibit unggul untuk mendampingi keluarga-keluarga yang sangat membutuhkan. Anda menjadi berkat luar biasa, tangan Tuhan dan rahmat Tuhan, karena segala sesuatu pasti dimulai dari keluarga, masalah-masalah seluruhnya, luka batin semuanya pasti dari keluarga dan kembali lagi ke keluarga. Jadi sangat urgen, sangat dibutuhkan dan sudah ditindaklanjuti. 

Jadi yang sudah baik ini sudah dimulai, diapresiasi, dibanggakan, jangan berhenti di sesi ini, saya bersedia membantu Sekai Kerasulan Keluarga Santo Yoseph Palembang dengan niat baik, tindakan, kontinuitas, managerial itu sangat penting dalam suatu kerja Tim. Diharapkan mulai di pertengahan tahun depan Tim ini sudah aktif membantu keluarga yang bermasalah, jadi  yang hadir di sini, bersedia untuk kelanjutannya, karena nggak cukup hanya satu kali pertemuan  saja tapi butuh kelanjutan untuk memperdalamnya.  Yang penting Bapak-Ibu ada waktu, selama kita ada hati, kita pasti ada waktu buat program ini setiap bulan, Karena kita ingin membantu masalah keluarga ini sangat dibutuhkan, kehadiran kita sangat diperlukan, tidak usah berpikir berat-berat, dengan pembekalan kita bisa, karena kita ada hati.

Untuk mendampingi hanya butuh hati, belajar mendengarkan untuk pertama kalinya, kita latihan untuk membimbing keluarga-keluarga itu satu kemampuan yang utama, yaitu :  mendengarkan  lebih kurang tiga bulan. Jadi tiga bulan pertama, setiap hari memberikan psikoterapi pribadi, hanya latihan melepaskan kebisingan, karena awal-awal di bulan pertama masih pikiran kita kemana-mana.  Nah ini untuk bisa memberikan konseling ke keluarga-keluarga, latihan mendengarkan, pikiran kita ini harus fokus, konsentrasi. Sebelum masuk ruangan, masalah-masalah di kepala kita, kebisingan dan problem harus diletakkan dulu di luar ruangan, bahkan dianjutkan beberapa menit sebelum memberikan konseling, kita harus melepaskan HP atau jangan lihat HP dulu, karena bisa jadi ada kabar buruk, ada kejadian peristiwa yang membuat suasana nanti  bisa berubah.  Apalagi 10-15 menit, setengah jam sebelumnya itu kita kondisikan diri kita ini baik, stabil, letakkan masalah kita di luar ruangan yang akan kita pakai untuk bimbingan.

Maka mendengarkan dengan seluruh keberadaan kita, pikiran, hati dan waktu kita itu harus diambil. Jadi belajar mendengarkan pertama kali, latihan dulu untuk tenang, fokus, karena poin utama menyimpulkan itu ada pada kemampuan mendengarkan, mau membentuk tim untuk sponsoring keluarga, mesti melatih kemampuan. Yang harus aktif adalah yang datang mau membimbing, mau menceritakan masalahnya, dia yang harus aktif, kita lebih pasif untuk berbicara, tapi kita aktif dalam mendengarkan. Kita harus mengikuti alur, menyelaraskan diri bersama klien kita.  Tujuannya biar masalah utama itu muncul, dalam lima menit sampai sepuluh menit pertama, karena masalah utama yang menjadi beban pribadi seseorang akan muncul di kalimat awal, lima menit pertama itu sebenarnya adalah seluruh inti, kalau sudah mahir profesional

Lalu, konseling atau terapi, berarti terapis tidak mendahului atau mengarahkan seperti tadi, melainkan kita berjalan bersama, berdampingan, beriringan, menjadi teman seperjalanan seperti itu. Posisi kita teman cerita, mendengarkan jadi kita jalan bersama-sama, itu proses yang tepat dan benar dalam konseling. Maka keluarga-keluarga itu sangat sulit mencari orang yang bisa mendengarkan.  Mendengarkan efek akhirnya adalah menyembuhkan. Untuk menyembuhkan luka batin,  mengubah kepribadian seseorang, sifat, karakter dengan melatih kemampuan mendengarkan. 

Setelah itu Romo Albertus Bayu Christanto, SCJ yang menyampaikan materi tentang :  Perkawinan Katolik, Menyelami Hukum Kanonik dan Nota Pastoral Keluarga Kuskupan Agung Palembang. Dalam materinya Romo Bayu menyampaikan bahwa pewartaan tentang keluarga adalah kabar yang sungguh mengembirakan. Dalam nota pastoral, keluarga sebagai Ecclesia Domestica, Gereja rumah tangga atau keluarga adalah sel terkecil/Gereja rumah tangga sebagai tempat iman itu pertama kali disemaikan. Ini penting, bahwa keluarga itu menjadi miniaturnya Gereja. Lalu tugas pendamping bukan sekedar menginformasikan teori-teori, atau konsep-konsep, tapi juga  berjalan bersama. Maka anda kesini berjalan bersama keluarga untuk menghidupi panggilan Tuhan ini. Bahwa anda sekalian dipanggil untuk berkeluarga,  tetapi panggilan untuk berjalan bersama, mendampingi keluarga-keluarga. 

Maka penting bagaimana kabar gembira, Ecclesia Domestica  menjadi sebuah identitas kita. Nah, Seksi Kerasulan Keluarga adalah sebuah langkah awal untuk menjadi tempat berpastoral, mendampingi keluarga-keluarga. Tugas dan tanggung jawab yang bisa dikembangkan oleh Seksi Kerasulan Keluarga meskipun memang nanti banyak akan menghadapi persoalan-persoalan, masalah-masalah, kita menerima aduan-aduan seperti sharing dan sebagainya. Kita perlu tindakan yang namanya tindakan preventif atau pencegahan, perlunya pendampingan pranikah. Pendampingan pranikah ini sangat penting karena jujur saja, memang berkeluarga itu membutuhkan sebuah pendampingan sejak dari sebelum pasutri itu akhirnya hidup bersama. Maka perlu bukan hanya kursus persiapan perkawinan tapi juga mulai dengan edukasi remaja, orang muda, bagaimana ketika mereka remaja mulai diedukasi.  Putra-putri yang sudah memasuki memasuki masa remaja,  ada edukasi seksualitas atau orang muda Katolik yang sudah beranjak untuk memikirkan keputusan untuk hidup berkeluarga bagaimana mereka mengetahui katekese perkawinan Katolik bukan saja ketika mendapat kursus perkawinan keluarga.

Juga penting pendampingan keluarga-keluarga usia sampai dengan 5 tahun, karena disitulah mereka sebenarnya memiliki banyak pergumulan-pergumulan ketika harus mengawali hidup secara bersama, mungkin komunikasi  karena masih ada ego yang masing-masing. Disinilah pentingnya bagaimana pendampingan entah secara personal atau membuat sebuah pertemuan-pertemuan yang diadakan bersama bisa menjadi sebuah program kerja juga.  Lalu juga pendampingan pola asuh, ketika keluarga-keluarga sudah memiliki anak, bagaimana mereka harus merawat anak, mendidik anak. Pola asuh ini juga bisa menjadi sebuah bentuk langkah pendampingan untuk keluarga-keluarga atau perkawinan dalam usia muda. Lalu pemberdayaan spiritualitas keluarga untuk membina hidup rohani dalam keluarga. Menghidupi tradisi doa dalam keluarga, entah dalam doa makan, doa pagi sebelum berangkat kerja, sebelum berangkat sekolah atau juga berjerjaring dengan komunitas, seksi katekese dan seksi pewartaan paroki untuk memberikan pewartaan atau katekese tentang keluarga. Banyak hal yang bisa menjadi inspirasi kita dalam melakukan tugas pelayanan sebagai pendamping keluarga-keluarga Kristiani.

Tetapi kita perlu langkah-langkah preventifnya juga, pencegahan supaya meminimalisir adanya masalah-masalah lain yang ada, yang bisa muncul dalam kehidupan berkeluarga itu sendiri. Lalu ada batas dan kompetensi seksi kerasulan keluarga dan perlu dipahami bahwa seksi kerasulan keluarga itu menjadi perpanjangan tangan Pastor Paroki dalam pengembalaan, pelayanan kepada keluarga-keluarga, umat sekalian terutama dalam merangkul, mendidik dan memulihkan hubungan-hubungan keluarga. Bagian memulihkan ini biasanya kita membutuhkan semangat pemulihan atau pengorbanan, kewenangannya bersifat pastoral dan edukatif, memberikan pendampingan, pengajaran atau pelatihan parenting dan sebagainya bukan bersifat yuridis/hukum.

Leave a Reply


7 + 3 =