Misa Tahunan Senatus, HUT 105 Tahun Legio Maria : Teguh Dalam Pelayanan, Setia Dalam Perutusan

September 12, 2026
Misa Tahunan Senatus, HUT 105 Tahun Legio Maria : Teguh Dalam Pelayanan, Setia Dalam Perutusan

PALEMBANG – Komisium Palembang menjadi tuan rumah pelaksanaan Misa Tahunan Senatus, HUT 105 Tahun Legio Maria dengan tema : Teguh dalam pelayanan, setia dalam perutusan. Sebanyak 1500 Legioner dari 29 Komisium dan Senatus Jakarta Bejana Rohani mengikuti kegiatan ini di Gua Maria Mater Misericordiae, Sukomoro Banyuasin, Sabtu 12 September 2026 pukul 10.00 Wib yang dipimpin oleh Uskup Agung Palembang, Yohanes Harun Yuwono. Sebelum Misa para Legioner dan para Imam diajak untuk berdoa Tessera bersama dilanjutkan dengan perarakan 29 Vandel Komisium dan Senatus Jakarta Bejana Rohani.

Lewat kata pengantarnya, Ketua Komisium Ratu Pencinta Damai Palembang, RD. Agustinus Giman menyampaikan, perjalanan kita selama 105 tahun Legio Maria di dunia dalam kurun waktu ini Allah telah memakai kita para Legioner sebagai saluran kasihnya, menghadirkan terang Injil di tengah dunia yang terus berubah. Melalui Perayaan Misa Tahunan ini kita semua yang ada disini, khususnya para Legioner di bawah Senatus Bejana Rohani, bersyukur atas rahmat yang terus mengalir dalam hidup dan karya pelayanan kita, sekaligus kita juga diajak untuk meneguhkan kembali semangat panggilan kita dengan meneladani Bunda Maria, Bunda Allah, hamba Tuhan yang setia dan rendah hati.

Cara hidup Bunda Maria adalah cara hidup kita semua. Bunda Maria yang menjawab ” Ya “ atas keputusan Allah dan teguh dalam menyertai Puteranya dalam karya keselamatan, memberikan teladan bagi para Legioner untuk tetap teguh dalam pelayanan dan setia dalam keputusan. Semoga Perayaan ini memperdalam Devosi kita kepada Bunda Maria dan memperbarui semangat misi kita untuk menjadi alat kasih Allah di tengah umat dan dunia.

Sementara itu dalam homilinya, Mgr. Yuwono mengatakan, Maria memberi teladan bahwa umat Legioner harus mengunjungi orang yang membutuhkan, datang, lihat dan layani. Bergegas ke orang yang sakit, orang yang bermasalah, orang yang perlu bantuan dan bergegas tidak berfikir panjang dan mengkalkulasi untung-untung.  Dalam bertamu bawalah Yesus, orang yang kita kunjungi pasti akan bahagia.  Ketika bertamu jangan merepotkan tapi melegakan, meringankan, sebab kita mau menolong, jangan menghadirkan keluhan melainkan optimisme, kesehatan dan penghiburan. Apakah makna sosial dan rohani yang berdalam dari kunjungan ? Secara sosial, orang lain adalah bagian dari diriku yang tak terpisahkan. Suka dan duka orang lain adalah suka dan duka diriku, orang lain adalah bagian tak terpisahkan dari jiwa dan ragaku. Secara rohani, Allah adalah Bapa kita semua, Bapa itu maha baik, tidak membedakan orang, kita semua dicintai oleh Allah dengan cinta yang sama. Maka kita mencintai menurut cinta Bapa kepada semua orang yang kita jumpa. 

Seorang Legioner harus mempunyai sikap cinta damai, membangun dunia tanpa kekerasan. Paus dalam segala penderitaan yang dia terima, dari banyak orang yang memusuhi, dia tidak melawan. Membangun dunia tanpa kekerasaan, bangga akan keberagaman., tidak membedakan orang apapun yang terjadi. Semua orang adalah saudara dan saudari kita dan bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Dalam keluarga kita diikat oleh daging dan darah dari orang tua kita. Seburuk apapun saudara kita, dia tetap saudara kita dan tetap harus mencintai. Kita semuanya diikat oleh Tubuh dan Darah Kristus sebagai saudara dan saudari angkat, anak-anak angkat dari awal, Bapa yang sama, semua orang bagian tak terpisahkan dari hidup kita.  Persaudaraan dan persaudarian kita tidak bisa dihapus karena ikatan Darah dan Tubuh Kristus  sendiri, penebus kita. Mari kita berani mencintai dengan cinta yang tanpa batas, tanpa paksaan, tanpa pamrih, tanpa pilih kasih, berkorban kalau harus berkorban secara total untuk kebahagiaan orang lain dan untuk kesejahteraan bersama.

Pada kesempatan ini Kardinal Ignatius Suharyo dalam pesannya melalui tayangan video mengucapkan selamat hari ulang tahun ke 105 Legio Maria kepada seluruh anggota Legio Maria di seluruh Indonesia khususnya dalam naungan Senatus Bejana Rohani Jakarta, semoga acara Tahunan di Palembang menjadi kesempatan bagi para Legioner untuk semakin berusaha meneladan Bunda Maria. Pada 8 September yang lalu kita merayakan kelahiran Bunda Maria, sebelum tampil di depan umum menerima pengutusan dari Tuhan Bunda Maria hidup di dalam kesunyian dan hidup secara tersembunyi, artinya ia hidup di dalam irama pada zaman itu sehari-hari. Iramanya adalah melakukan tugas sehari-hari yang biasa, berdoa dan merenungkan sabda Tuhan sambil terus yakin bahwa hidupnya dipimpin oleh Roh Kudus.

Keutamaan yang terbangun pada masa tersembunyi itulah yang membuat Bunda Maria siap untuk menerima perutusan, baik perutusan yang diberikan oleh Malaikat Gabriel, maupun sesudah Yesus lahir mengalami berbagai macam peristiwa dan pengalaman dan sangat bagus dikatakan dalam Injil : Maria menyimpan segala perkara ini dalam hatinya dan merenungkannya. Itu berarti Bunda Maria dengan watak rohani seperti itu mampu memberi makna kepada setiap peristiwa dan pengalaman di dalam hidupnya yang sederhana maupun yang istimewa. Semoga para Legioner juga meneladan Bunda Maria selalu menyimpan perkara, artinya : pengalaman dan peristiwa hidup sehari-hari dan merenungkannya sehingga setiap peristiwa dan pengalaman mempunyai makna di dalam usaha kita mengikut Yesus Kristus dengan meneladan Bunda Maria.

Leave a Reply


4 + 1 =