Umat Memperingati Perjamuan Malam Terakhir

April 18, 2019
Umat Memperingati Perjamuan Malam Terakhir

Gereja merayakan misteri terbesar penebusan manusia yang dikenal dengan Tri Hari Paskah mulai dari Misa Perjamuan Malam Terakhir Kamis Putih, Jumat Agung sampai dengan Ibadat Minggu Paskah. Dalam Tri Hari Suci ini umat Katolik diajak untuk mengenang penyaliban, pemakaman dan kebangkitan Yesus Kristus. Perayaan Kamis Putih diadakan di Gereja Santo Yoseph Palembang 18 April 2019 pukul 18.30 Wib dipimpin oleh RD. Laurentius Rakidi.

Perayaan Kamis Putih terdiri dari perjamuan malam terakhir, upacara pembasuhan kaki, perarakan pentahtaan Sakramen Mahakudus dan tuguran untuk mengenang kembali saat para rasul berjaga-jaga bersama Yesus di Taman Getsemani sebelum ditangkap. Dalam perjamuan malam terakhir umat diajak untuk mengenang kembali perjamuan yang dilakukan Yesus Kristus bersama para rasul yang mengorbankan Tubuh dan DarahNya sebagai ungkapan kasih yang total. Sementara itu pembasuhan kaki dilakukan untuk mengenang kembali yang pernah dilakukan Yesus terhadap para rasul.

Dalam homilinya RD. Stefanus Supardi mengatakan Perayaan Perjamuan Tuhan yang kita rayakan pada malam ini menjadi perayaan dimana Kristus menempatkan Ekaristi dimana Allah menganugerahkan rahmat yang agung bagi Gereja dan bagi dunia. Perjamuan malam terakhir adalah simbol atau tanda dimana Kristus menyerahkan diri sepenuhnya bagi Gereja dalam Perayaan Ekaristi dan isinya digenapi dalam Triduum Paskah, sengsara, wafat dan kebangkita Kristus.

Perayaan Ekaristi adalah peristiwa penyelamatan yang hadir dalam sengsara, wafat dan kebangkitan Kriatus, inilah menjadi puncak serta sumber kehidupan umat beriman, umat Katolik dan dari sinilah umat Kristiani menimba kekuatan, aneka macam berkat dari Perayaan Ekaristi.

Peristiwa pembasuhan kaki para murid-murid Yesus mengajak kita untuk merefleksi dan merenungkan agar mau membasuh kaki satu sama làin, kita diajak juga mau membersihan diri agar menjadikan fundamen hidup kita secara baik, benar, cermat dan bersih. Kita semakin bekerjasama dengan yang lain sehingga kualitas hidup dan budaya kita menjadi semakin tinggi. Langkah hidup kita bersih yang bersih, berguna dan menguatkan teladan yang ditunjukkan oleh Kristus ketika membasuh kaki para murid.

Mari kita satu dengan yang lain juga memiliki kemauan untuk saling membersihkan, saling menyokong, saling menumbuhkan dan menghidupkan. Semoga perayaan ini semakin mengingatkan dan menyadarkan kita akan rahmat melimpah yang diberikan Tuhan melalui Perayana Ekaristi dan semoga semakin memampukan kita untuk saling melayani, saling membersihkan hidup kita sehingga rekam jejak hidup kita adalah rekam jejak hidup yang baik sebagaimana dikehendaki oleh Kristus, kita hidupi dan kita jalani dalam peziarahan hidup kita serta menjadi kesempata bag kita untuk membersihkan jejak langkah kaki kita.

Sebanyak 12 orang mewakili umat dari 12 wilayah yang ada di Paroki Santo Yoseph Palembang bertugas sebagai murid Yesus yang akan dicuci kakinya. Pencucian kaki dilakukan oleh RD. Stefanus Supardi yang menunjukkan semangat pelayanan kasih seperti dicontohkan oleh Yesus Kristus.

Susai Perayaan Ekaristi rangkaian acara diteruskan dengan perarakan Sakramen Mahakudus menuju ke Gedung Aula Serbaguna Santo Yoseph Palembang untuk ditahtahkan dan umat diajak untuk mengadakan Adorasi malam di hadapan Sakramen Mahakudus.

Leave a Reply


2 + 4 =