Gereja Menjadi Tempat Perjumpaan Yang Hidup Dengan Tuhan

November 9, 2025
Gereja Menjadi Tempat Perjumpaan Yang Hidup Dengan Tuhan

Gereja merayakan Pesta Pemberkatan Basilika Lateran yang merupakan Gereja Katedral Paus di Roma, Induk dan Kepala semua Gereja di Roma dan seluruh dunia. Umat Paroki Santo Yoseph merayakannya dalam Perayaan Ekaristi, Sabtu-Minggu 8-9 November 2025 dan pada Perayaan Sabtu pukul 17.30 dipimpin oleh RD. Hygginus Gono Pratowo.

Melalui homilinya, Romo Gono menyampaikan bahwa ketika Yesus mengusir pedagang dan penukar uang dari baik suci,  tindakannya bukan sekedar kecaman terhadap komersialisasi ibadat melainkan seruan mendalam untuk memulihkan kesucian rumah Allah sebagai tempat doa,  tempat perjumpaan kita dengan Tuhan dan tempat kita menimba air kehidupan. Dalam konteks Pemberkatan Basilika Lateran,  kita dipanggil merenungkan makna Gereja sebagai ruang yang kudus,  bukan sekedar bangunan yang megah, bangunan yang bersejarah, atau obyek wisata.  Tetapi, Basilika Lateran adalah sebagai pusat episkopal dan simbol kesatuan Gereja, menuntut pendekatan iman yang otentik.  Pemberkatan sebuah Basilika bukan hanya upacara formal,  melainkan peneguhan bahwa ruang itu harus menjadi tempat di mana Allah hadir dan umat menerima pembaharuan.

Sama seperti bait zaman dahulu, Gereja kita rentan dengan tempat proteinitas,  tanpa semangat atau kebutuhan dunia yang mengubah relasi kita dengan yang Ilahi.  Renungan ini ingin mengajak kita untuk membedakan antara aktivitas rohani yang tampak dengan iman yang hidup,  adakah kebaktian kita menuntun pada perjumpaan yang mengubah atau hanya ritual yang dipertahankan demi kebiasaan. Iman kita itu adalah iman yang hidup, bukan iman warisan, masing-masing mengalami pembaharuan.  Pemberkatan Basilika Lateran mengingatkan pula pada tanggung jawab setiap orang percaya  untuk menjaga kesucian rumah doa.  Kesucian ini dihidupi melalui sikap pribadi, kejujuran dalam pertobatan, penghormatan dalam peribadahan dan keterbukaan untuk menerima koreksi rohani.

Seperti Yesus yang menuntut pembaharuan,  Gereja yang diberkati harus menumbuhkan pelayanan yang memihak pada yang kecil,  yang miskin, membela martabat manusia dan menjadi saksi belas kasih Tuhan. Ketika bangunan diberkati, marilah kita bertanya apakah hidup kita juga diberkati dengan kasih yang mengalir ke sesama?   Pembangunan diharapkan bahwa semakin mempersatukan, menjalin persaudaraan, tetapi seringkali pembangunan Gereja menjadikan perselisihan, ada gap kanan dan ada gap kiri. Ketika membangun sesuatu dan ada konflik di dalamnya, maka yang terjadi adalah perselisihan.  Sampai Gereja diberkati, orang kagum akan Gereja yang indah dan megah, tetapi sayang, umat tidak rukun dan seksi pembangunan tidak damai.  Maka sia-sialah tujuan yang utama adalah semakin memperteguh iman, semakin memperkaya iman, juga semakin hidup dalam persekutuan dan persaudaraan. 

Sekali lagi yang menjadi pusat kehidupan kita adalah Tuhan sendiri, kita semua dipakai oleh Allah untuk menjadi batu-batu yang hidup. Tujuan dari sebuah bangunan yang hidup itu adalah semua ambil bagian, semua merasa bahagia dan dipenuhi dengan sukacita. Kalau itu yang terjadi, maka sesuai dengan pusat peribadatan adalah kita semakin bersatu dengan Tuhan dan semakin hidup dalam kasihnya. Mari kita merayakan pemberkatan dengan komitmen personal menjadikan setiap Gereja tempat perjumpaan yang hidup dengan Tuhan. Gereja sebagai arena solidaritas,  ruang dimana iman menghasilkan tindakan kasih, dengan demikian bangunan yang diberkati mencerminkan jemaat yang diberkati.  Gereja yang dibersihkan dari segala yang menutup hadirat Tuhan dan dipenuhi dengan semangat misi serta doa.  Semoga Anda menjadi batu-batu yang hidup membawa kedamaian, pengampunan dan sukacita. 

Leave a Reply


4 + 5 =