Salib adalah bukti kasih Allah bagi manusia karena cinta Allah yang besar dan mengutus PuteraNya untuk menebus dosa manusia. Umat Paroki Santo Yoseph Palembang merayakan Pesta Pemuliaan Salib Suci dalam Perayaan Ekaristi, Sabtu-Minggu 13-14 September 2025.Pada Perayaan Ekaristi, Minggu 14 September 2025 pukul 08.30 Wib dipimpin oleh RD. Steve Winarto dari Keuskupan Agung Jakarta yang bertugas di KWI, Moderator BPN PPKI dan Charis Indonesia didampingi oleh RD. Hyginus Gono Pratowo.
Melalui renungan homilinya Romo Steve mengatakan, dalam hidup ini ada dua hal, yaitu : pasti dan tidak pasti, yang tidak pasti adalah hidup kekal. Untuk mencapai hidup yang kekal, hidup bersama dengan Tuhan dalam kerajaan surga, itu tidak pasti. Semua tergantung dari kita masing-masing, semua tergantung dari pribadi kita dan cara hidup kita selama kita di dunia. Tetapi untuk mencapai hidup kekal, hidup dalam kerajaan surga, yang paling utama itu adalah, harusnya relasi kita dengan Tuhan. Bagaimana sikap kita dalam keseharian kita dengan Tuhan diwujudkan, dalam keseharian kita dengan istri, anak dan suami.
Hidup kekal, tidak dialami oleh bangsa Israel, ketika mereka itu mengalami hidup protes, mereka mengalami hidup komplain sama Tuhan, tidak bisa bersyukur atas apa yang diterimanya, mereka mungkin mengeluh dan sebagainya. Banyak kehidupan kita Bapak Ibu, mungkin bisa bertanya dalam hidup perkawinan kita masing-masing, banyak dalam hidup perkawinan yang mungkin merasa bahwa mereka komplain, tidak protes dan tidak bersyukur. Pasangan suami istri, resiko terjadi perpecahan, perceraian karena tidak bisa bersyukur atas apa yang diberikan Tuhan dalam hidup mereka.
Orang yang mau mencapai hidup kekal, itu jangan sampai menjadi pribadi yang tidak mudah bersyukur, selalu mengeluh sama Tuhan, protes sama Tuhan. Dalam pekerjaan sama, kalau kita tidak mudah bersyukur dalam pekerjaan kita, maka kita akan mudah iri sama orang lain. Kita mudah komplain, kita mudah merasa saya tidak puas, mudah mengeluh sama Tuhan, kalau kita tidak bersyukur. Maka kuncinya adalah yang pertama, adalah mari kita tidak seperti bangsa Israel. Ketika kita mau mencapai hidup kekal, mari kita belajar bersyukur atas apa yang ada dalam hidup kita. Mulailah dari keluarga anda masing-masing, syukurilah suami, istri dan anak-anak dalam hidup perkawinan anda, harus disyukuri bahwa Tuhan memberikan berkatnya seperti ini.
Bagaimana kita mensyukuri kehadiran suami, istri, anak, orang tua kita di dalam hidup kita masing-masing. Kita harus mensyukuri apa yang menjadi kondisi orang tua kita masing-masing. Apa yang terjadi, apa yang dialami, apa yang dihadapi oleh orang tua kita, mereka juga berjuang menjalani kehidupan perkawinan dan keluarga masing-masing, mensyukuri dan menerima apa yang diberikan Tuhan.
Kuncinya ketika kita mau ditinggikan oleh Tuhan, ketika kita mau hidup kekal bersama dengan Tuhan, hidup bahagia bersama dengan Tuhan, mari kita merendahkan diri dihadapan Tuhan. Kita menganggap diri kita tidak punya apa-apa, kita menganggap diri kita itu tidak memiliki sesuatu apapun, tidak punya kehebatan apapun dan kita hanya berserah mengandalkan kekuatan Tuhan. Jangan hidup dalam kesombongan, jangan hidup dalam kehebatan-kehebatan kita, bagaimana kita rendah hati, kita mau merendahkan diri kita, merasa tidak hebat dibanding Tuhan yang lebih hebat daripada kita.
Mari kita mencapai hidup kekal, hidup kekal sekali lagi adalah sesuatu yang tidak pasti, semua tergantung di tangan kita. Kalau Anda mau hidup kekal, kepastian itu dalam tangan Anda, maka mari kita selalu merasakan bahwa Tuhan itu ada dalam hidup kita dan kita merendah hati di hadapan Tuhan, kita merasa tidak hebat di hadapan Tuhan. Kita tidak mudah untuk bersungut-sungut, tidak mudah mengeluh, tapi bersyukurlah sama Tuhan atas apa yang sudah Tuhan berikan. Cukupkanlah apa yang Anda terima dari Tuhan di dalam hidup Anda masing-masing.




