Palembang – Peringatan Hari Orang Sakit Sedunia ke 33 dirayakan pada tanggal 11 Februari 2026 untuk memandang orang sakit bukan sebagai beban tetapi sebagai saudara yang dipercayakan Tuhan kepada kita. Umat merayakannya dalam Perayaan Ekaristi, Sabtu 14 Februari 2026 pukul 09.00 Wib di Gereja Santo Yoseph Palembang yang dipimpin oleh Vikjen Keuskupan Agung Palembang, RD. Yohanes Kristianto. Ratusan umat mengikuti kegiatan tersebut termasuk mereka yang sakit dan duduk di kursi roda, pada kesempatan ini juga dilakukan penerimaan minyak urapan orang sakit untuk semua umat yang hadir.
Romo Kris dalam homilinya mengatakan, melalui Hari Orang Sakit Sedunia, Tuhan menyapa kita semua baik yang sakit, tidak berdaya dan sehat. Perayaan hari ini mengajak kita semua yang sakit, yang menderita, yang berat menghadapi kenyataan, yang sedang dialami untuk tidak merasa terbuang, tidak merasa terpinggirkan walaupun mungkin perasaan itu ada. Tapi hari ini kita diajak untuk tidak merasa terbuang, tidak merasa tersingkirkan, tidak merasa menjadi beban bagi yang lainnya, tidak merasa tidak ada nilai, sekurang-kurangnya kita diajak untuk percaya Allah itu peduli, Yesus itu menjadi sumber kekuatan dan pengharapan kita, itu yang kiranya bisa menjadi isi dari batin kita, dari kerohanian kita. Di balik penderitaan yang kita alami tetap ada peluang untuk mengandalkan Tuhan dalam diri kita. Kita bukan orang-orang yang terbuang, sangat mungkin perasaan itu muncul dan tidak mudah menerima kenyataan itu.
Hari ini kita diajak untuk percaya bahwa Allah itu peduli dengan kita, Yesus yang wafat disalib sudah mengorbankan dirinya untuk solider dengan kita. Semoga perayaan hari ini membuat kita memperoleh kembali semangat, tidak terjebak dalam belenggu penyesalan, belenggu rasa bersalah, belenggu kerapuhan-kerapuhan kita, tapi tetap ada peluang di dalam diri kita untuk percaya sekurang-kurangnya penyembuhan batin itu yang dibutuhkan. Bagi yang tidak bisa melihat, yang berada di kursi roda, yang stroke dan yang punya pengalaman-pengalaman sakit sampai dengan sekarang ini, mari kita percaya bahwa Allah itu berada bersama-sama dengan kita. Seringkali Yesus mengatakan satu kata yang boleh memotivasi kita “ Imanmu telah menyelamatkan engkau “ itu yang ingin kita pegang.
Keluarga-keluarga yang di rumahnya ada yang sakit, hari ini kita juga disapa untuk bertindak seperti Yesus yang di dalam hati, dalam diri kita hendaknya ada semangat belas kasih. Bukan hanya sekedar teori, tahu apa yang baik, apa yang harus dilakukan, kita diajak untuk menjadi tanda kehadiran Yesus sendiri, menemani dengan penuh kasih, dengan ikhlas hati, mendampingi, menyemangati dan memotivasi. Mungkin dengan cara-cara seperti itu orang yang sakit menemukan sesuatu yang bernilai, keyakinan saya tetap berharga, saya tetap bernilai. Mungkin dengan cara pendekatan yang baik salah satu sarana penyembuhannya ada disana, tidak hanya lewat obat-obat yang lain, obat-obat medis, tidak cukup hanya itu seringkali pendekatan belas kasih yang sungguh menjadi sumber penyembuhan.
Bagi yang sehat, mari kita persembahkan hati kita, kasih kita yang sungguh kepada saudara-saudari, anggota-anggota keluarga kita yang sakit, peduli dengan mereka dan solider sesuai dengan tema yang dibawa pada hari ini “ Mengasihi dengan menanggung derita orang lain “. Kita punya rasa solider, ikut mengalami penderitaan seperti yang mereka alami, itu yang akan membuahkan kepedulian kepada mereka. Maka Perayaan Ekaristi hari ini menjadi sangat bermakna dan istimewa, kita semua berharga di hadapan Tuhan, bagi yang sakit, bagi yang menderita, kita menemukan Allah yang peduli bagi yang sehat. Kita dipanggil untuk menghadirkan kasih Allah, di hadapan dan di tengah keluarga atau saudara-saudari kita yang sakit, semoga perayaan ini mendatangkan berkat untuk kita semuanya.



