Palembang – Rangkaian Novena Santo Yoseph selama sembilan hari yang dimulai 6 Maret 2026 berakhir Rabu 18 Maret 2026 dengan tema : Krisis karena ketakutan terhadap penguasa baru Yudea dan Yerusalem. Novena dipimpin oleh RD. Titus Jatra Kelana diawali dengan penyalaan lilin pukul 17.00 Wib di Gereja Santo Yoseph Palembang.
Dalam renungannya Romo Jatraa mengajak umat untuk mau belajar bagaimana kesetiaan Santo Yosef di tengah krisis yang dihadapi. Santo Yosef, Pelindung Gereja Universal yang novenanya kita jalankan sembilan hari ini, pernah merasakan situasi krisis yang sulit. Yosef adalah gambaran, adalah potret keberanian orang yang kecil yang dihantam oleh raksasa kekuasaan.
Yosef pada saat mengalami krisis yang besar, dia tidak punya tentara, dia orang kecil, tidak punya koneksi politik relasi politik dan juga tidak punya banyak harta. Dia hanya seorang tukang kayu, tetapi punya tanggung jawab yang besar untuk menyelamatkan keluarganya dari kejaran rezim yang kejam, yang bisa menghilangkan nyawa putra terkasih. Di tengah krisis yang dialami Yosef tidak membalas dengan demonstrasi, dengan ujuk rasa atau dengan kemarahan yang sia-sia, tetapi justru Yusuf meresponnya dengan sebuah tindakan nyata. Demi melindungi apa yang paling berharga bagi Allah dan bagi keluarganya.
Ia tidak memaksakan kehendaknya atau melawan penguasa dengan pedang, tetapi Yusuf memilih jalan kerendahan hati dengan menyingkir ke wilayah Galilea, ke kota kecil bernama Nazareth. Kisah Yusuf mengajarkan kita bahwa penguasa dunia atau sistem yang tidak adil mungkin bisa mengubah rute perjalanan hidup kita, tetapi mereka tidak bisa mengubah tujuan akhir kita. Dalam hidup kita saat ini, Herodes atau Arhelaus bisa muncul dalam berbagai bentuk. Mungkin dengan atasan yang tidak adil, mungkin dengan sistem yang menindas rakyat kecil, mungkin juga dengan sistem atau situasi politik yang mengancam ketenangan masyarakat, ketenangan keluarga.
Krisis di Timur Tengah dan konflik di belahan dunia manapun, mengingatkan kita bahwa ketika penguasa bertikai, masyarakat, keluarga-keluargalah yang menjadi tumbal, yang merasakan dampaknya. Yosef mengajarkan kita untuk tidak menjadi penonton yang abai, Ia mengajak kita untuk memiliki empati bagi mereka yang kehilangan rumah, bagi mereka yang mengalami penderitaan itu.
Penguasa zaman ini bukan hanya raja atau presiden atau apapun sebutannya, melainkan juga sistem ekonomi yang serakah, yang merusak lingkungan hidup, kerusakan alam adalah bentuk krisis akibat kekuasaan yang menyimpang. Santo Yusuf, tukang kayu, memiliki hubungan yang harmonis dengan alam. Ia bekerja dengan tangannya, menghargai bahan-bahan dari bumi. Sebaliknya, saat ini kita melihat hutan gundul, polusi di mana-mana, karena krisis iklim disebabkan oleh kebijakan-kebijakan penguasa yang mementingkan profit, mementingkan keuntungan daripada keberlanjutan hidup manusia.
Santo Yosef mengajarkan kepada kita bahwa saat krisis melanda, akibat kebijakan-kebijakan, keputusan-keputusan penguasa, kita semua dipanggil untuk jangan membiarkan rasa takut melumpuhkan iman kita. Kita tetap harus bergerak, tetap harus berjuang, yakin bahwa Tuhan mendampingi kita, tak sedetikpun Ddia meninggalkan kita. Di tengah kebisingan dunia masa kini, Yosef mengajak kita semua untuk juga berusaha mencari kebendak Allah lewat doa dan mendengarkan suara hati.
Paus Fransiskus dalam surat apostoliknya Patris Corde menjelaskan, bahwa Yosef adalah ayah yang berani, ayah yang kreatif, yang mampu mengubah masalah menjadi peluang dengan selalu mengandalkan penyelenggaraan ilahi. Mari kita mohon doa dari Santo Yosef agar kita pun dimampukan untuk tetap melihat peluang-peluang baik di tengah situasi-situasi sulit yang kita rasakan dan kita alami.




